Pecundang Punya Mimpi

Rabu, 04 Juni 2014



Kenapa orang-orang terus menatap langit sambil berjanji kalau dirinya akan sukses? Padahal langit nggak bisa bicara apapun bahkan nggak punya pintu yang terbuka lebar menuju kesuksesan. Di langit sana, yang ada hanya awan, burung dan sesekali di lewati pesawat. Itu doang! Kecuali kalau lo mau sukses jadi pilot, gue maklumi lo suka lihat ke atas sambil bilang “Suatu saat gue yang bakal nyetir pesawat!”
“Kalau gue jatuh dari gedung gara-gara mau ke langit, Tuhan masih kasih gue nyawa nggak ya..” gumam Arfan polos.
Yang disebelahnya melirik aneh, heran, gila.. Gumam yang udah jelas jawabannya bakalan tewas.
“Lo bukan kucing yang punya sembilan nyawa, Fan.”
Selalu. Jawaban yang berulang-ulang dari Vano ketika Arfan membicarakan hal yang sama. Tapi Arfan nggak pernah bosan mengulang ucapan itu, apalagi mendengar jawaban sahabatnya yang sederhana dan klise namun dapat membuat Arfan sadar jika hidup bukan perihal seberapa banyak nyawa untuk mendapatkan kesempatan, tapi perihal bagaimana menghasilkan sesuatu dari kesempatan nyawa yang diberikan. Meskipun harus melewati jatuh, tertatih dan putus asa.
Sebenarnya dia paham jika dia bukan kucing yang punya sembilan nyawa. Punya satu nyawa saja dia harus susah payah ngejaga. Namun, hidup dari seekor kucing tentu tidak salah, karena Arfan ingin seperti kucing yang selalu bertahan hidup. Kucing punya sembilan nyawa saja masih berusaha mempertahankan diri, apalagi dirinya yang hanya punya satu nyawa! Harus tetap hidup bahkan menjadi sukses. Tapi,, yah,, namanya juga manusia,, terkadang ingin merasakan bagaimana menjadi seekor hewan.
“Kalau gue kaya kucing, mau gue lompat delapan kali, pasti gue masih hidup sekali lagi.”
“Fan,, gue ingetin,, mau lo punya nyawa sekali lagi, lo harus nikmatin delapan kali kesakitan yang sengaja lo buat. Lo jatuh dari gedung bukan ngerasain seneng karena masih punya nyawa, seharusnya lo pikir gimana caranya lo nyari bahagia tapi bisa pertahanin nyawa.”
Arfan hanya menyeringai. Dia suka kesakitan, itu membuatnya menikmati kebangkitan. Dia juga suka pertentangan, namun bukan berarti menentang segala sesuatu yang dianggap orang baik. Arfan punya banyak cara untuk menyusun sebuah puzzle yang berbahaya, karena diam-diam, Arfan mempunyai cita-cita yang ‘berbahaya’.
Kedua pemuda itu kembali menatap ke atas sambil berbaring dan menumpu kepala dengan kedua tangannya. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas semua ini tentang kehidupan. Kehidupan yang baru akan dimulai, karena mereka harus mencapai kesuksesan di dunia ini. Dunia yang terkadang penuh dengan topeng kemunafikan dan juga label pecundang.
 “No, di langit yang lagi kita tatap. Gue pengen dia simpen harapan gue dan bilang ke nyokap gue, kalau gue nggak mau jadi pilot. Sumpah, bukannya gue mau jadi durhaka karena nggak suka sama keinginan nyokap. Tapi,, nyokap gue tuh lupa,, kalau anaknya kurang tinggi.”
“Fan,, gue juga mau bilang, langit di sini sumpek. Nggak Ada AC apalagi kipas. Sumpah,, langit-langit kamar lo nggak asik banget, isinya Romi Rafael, Dedi Corbuzier sama itu tuh..” Vano menunjuk dengan dagunya. “Demian.”
Vano menghela nafas sejenak, ada rasa kekhawatiran yang menyergap dalam pikirannya. “Lo nggak homo kan, Fan?”

***
Orang-orang menyebut cita-cita ini dengan komentar “Nggak banget!” “Cita-cita lo nggak berkelas!” “Masa depan lo suram dah.” apalagi sang ibunda tercinta, “Ndo,, Ndo,, dikasih cita-cita setinggi langit kok minta setinggi pohon toge.”
Sekali lagi, ini bukan tentang jabatan, bukan juga tentang bermandikan uang ratusan ribu rupiah. Ini tentang cita-cita yang patut diperjuangkan. Bukannya waktu kecil, kita harus punya cita-cita? Karena cita-cita bukan hanya sekedar duduk manis di kantor sampai tua.
 “Ma,, Arfan tetap mau jadi pesulap.”
Mama Arfan tetap pura-pura nggak mendengar, dan seakan kosakata itu hanya dimengerti para ahli bahasa sansekerta. Pesulap? Apaan sih!
“Mama lebih suka kamu pakai baju berjas, pergi kerja ke kantor atau lebih bagus kamu jadi pilot. Mama lebih suka itu. Kalau tau kamu mau jadi,, apatuh yang barusan kamu bilang?”
“Pesulap, Mah..”
“Iya,, itu tukang lap,, lebih baik nggak usah kuliah, kamu kerja jadi badut aja sana.” jawab mama Arfan, masih konsentrasi nonton sinetron setelah sholat isya.
Badut? Ah,, badut itu beda sama pesulap. Yaa, walaupun ujung-ujungnya menghibur dengan sulap juga. Tapi,, sama sekali berbeda!
Sebenarnya, Arfan bisa saja diam-diam pergi berkelana mencari jati diri untuk menjadi pesulap. Namun, Arfan sadar, bahwa restu ibu merupakan jalan yang baik menuju kesuksesan. Maka dari itu, Arfan bertekad dari sekarang, dia ingin membuktikan semuanya bahwa menjadi pesulap merupakan cita-cita yang patut diperjuangkan dan bukan lagi cita-cita yang berbahaya.
Keesokannya, Arfan telah membeli alat-alat sulap bersama Vano, setelah dihubunginya Vano dan memaksa Vano untuk mengantarnya. Sebenarnya, Vano juga merasa aneh dengan Arfan atas cita-citanya itu, meskipun setelah dia tahu jika sebenarnya Arfan bukan homo melainkan terobsesi menjadi pesulap seperti poster-poster yang di lekat di langit kamar Arfan.
“Tisu, uang kertas, dompet.”
Kedua pemuda ini menatap barang yang ada dihadapannya, belum disentuh sama sekali. Pasalnya, dia masih belum mengerti bagaimana menggunakannya, sampai pada akhirnya Arfan mencari informasi cara menggunakannya di google.
Kedua pemuda itu terus berlatih sampai bisa, bahkan jempol tangan Arfan sempat terkena api karena ceroboh menggunakan dompet sulap. Tapi Arfan tidak menyerah, dia harus menggapai impian menjadi pesulap itu. Hanya Vano lah yang belajar sekedarnya dan bahkan sudah tidak berniat memainkan alat-alat sulap itu, pemuda yang bekerja di sebuah kantor metropolitan ini memilih sukses menjadi eksekutif muda.
Akhirnya Arfan berjuang sendirian. Murni sendirian. Hanya semangat yang setia mengiringi langkah kaki Arfan sampai berakhir di sebuah tempat pelatihan hipnotis. Awalnya Arfan ragu, bukan karena ragu karena cita-citanya itu, namun ragu karena biaya pelatihan hipnotis menguras uang. Dengan keadaan begini, tidak mungkin dia meminta uang pada orang tuanya yang jelas menentang impian, akhirnya dia bekerja sebagai pesulap mengisi acara ulang tahun anak-anak sampai acara di kampusnya. Dan untuk sementara waktu sampai uangnya terkumpul, dia sering pergi ke Jatinegara untuk menyerap ilmu pesulap dari pedagang kaki lima di sepanjang trotoar jatinegara. Dan dari sana pula, dia menemukan kehidupan dunia pesulap yang bukan sekedar dunia kekonyolan, melainkan dunia pesulap yang masuk ke dalam dunia masa depan.
 Dalam kurun waktu yang tak lama, setelah dia mengumpulkan uang dan belajar di pelatihan hipnotis, Arfan dapat mengantongi ilmu hipnotisnya. Jelas, Arfan bangga.
Sebelum dia membayar mulut-mulut yang mengejeknya, apalagi melihat ibunya yang nyaris mengeluarkan Arfan dari anggota keluarga, Arfan berdiri di depan cermin dengan setelan jas hitam yang dipakainya.
“Pesulap nggak melulu pake baju badut. Gue ganteng, berarti gue harus pake baju keren.” ucapnya membanggakan diri dari pantulan cermin.
Sebelum dia menampilkan diri di depan orang-orang yang mengejeknya, dia ingin mempraktekan ilmunya dengan cara menghipnotis dirinya sendiri. Di depan cermin, Arfan tersenyum seraya menatap matanya. Tidak berapa lama dia memejamkan mata dan sugesti dirinya sendiri. Gue hipnotis supaya mata gue ke tutup.
 Dan sugesti itu sukses membuat matanya tertutup. Arfan kelabakan, dia malah terkesiap dengan sugestinya sendiri!
“MAAAH!” Arfan berteriak dari dalam kamarnya, sontak membuat mamanya yang tengah asik menonton sinetron langsung berlari yang diekori adiknya itu.
“Tolong, Mah!! Nggak bisa buka mata!!!”
Mama Arfan yang juga terkesiap, langsung menyiram wajah Arfan dengan air. Mamanya Arfan nggak tahu, kalau anaknya lagi mensugesti diri sendiri, yang dia tahu Arfan lagi kelilipan sampai nggak bisa buka mata.
Arfan langsung teringat dengan gurunya yang menyuruh tenang ketika mengembalikan ke kondisi seperti semula. Dengan dipapah mamanya, Arfan duduk di sofa ruang tamu dan mulai sugesti diri sendiri. Mamanya, adiknya bahkan papanya yang baru saja keluar dari kamar mandi terus mengamati anak sulungnya itu.
“Kamu ngapain sih?” mamanya yang nampak terlihat lega itu langsung mengintrogasi Arfan setelah membuka mata.
Arfan cengengesan, dengan sigap dia langsung merubah air mukanya menjadi seorang magician. “Panggi Arfan Rafael atau Arfan Corbuzier. Karena sugesti saya berhasil!!” ucapnya dengan lantang.
Keluarga kecil itu ternganga. Aneh, nggak jelas dan mungkin Arfan mulai gila.
“Mah, Pah, Dek.. Sebelum Arfan berjuang menjadi magician di dunia luar, tolong jadi penonton pertama yang lihat aksi Arfan.”
Sebenarnya ketiga orang itu malas banget menyaksikan aksi yang –nggak banget. Namun, yah,, secara Arfan belum dihapus dari kartu keluarga, mereka ingin memberikan kebahagian pada Arfan sebelum benar-benar di depak dari keluarga harmonis ini.
Mula-mula Arfan bermain tisu yang dapat berubah menjadi bunga. Mama Arfan yang masih terbengong-bengong tidak percaya langsung meluncurkan pertanyaan “Kok bisa sih?”
Adiknya juga tak kalah heran, bahkan dia berkali-kali minta diajarkan. Papanya pun yang masih diambang percaya tidak percaya langsung mengambil alat tersebut dan mengamatinya dengan detil. Arfan sukses membuat keluarganya terkagum-kagum. Tentu saja Arfan puas karena aksinya berjalan lancar, dengan begini,, mungkin mamanya akan mengizinkan dirinya menjadi seorang magician.
“Mah, diizininkan?”
“Kasih tunjuk mama dulu, apa kamu bisa menghasilkan uang dari cita-citamu itu!”

***
Arfan berdiri di antara ratusan peserta Ospek yang tengah menunggu aksinya. Ini bukan di depan cermin atau menatap langit bahkan di atas gedung. Ini benar-benar kenyataan yang telah memberikan dia kesempatan untuk mempertunjukan kemampuannya. Bukan hanya ratusan peserta Ospek, namun, dia berdiri diantara orang-orang yang mengejeknya. Semua harus berakhir, bahwa cita-cita yang berbahaya ini dapat menunjukan jalan menuju kesuksesan.
Kali ini dia tidak mempertunjukan aksi sulap, melainkan aksi hipnotis. Dia menunjuk lima orang untuk ikut berpartisipasi dalam hipnotisnya. Lima orang yang telah bersedia akhirnya dihipnotis, mereka menuruti sugesti Arfan, seperti disuruh menjadi foto model sampai melupakan namanya sendiri.
Arfan sangat piawai memainkan hipnotisnya. Semua orang menikmati aksi Arfan, mereka tertawa tak henti-hentinya dan bahkan terus berteriak “LAGI!”. Namun, karena waktu tak bersepakat dengan mereka, Arfan menghentikan pertunjukannya.
Hari ini dia sangat senang melihat air muka para peserta maupun teman-temannya terkagum dengan penampilannya. Tidak sia-sia dia berusaha menjadi seorang magician yang dapat diterima masyarakat. Setidaknya dia telah membayar mulut-mulut yang pernah meremehkannya dengan pertunjukan ini, di depan mereka bahkan di depan orang-orang baru yang belum mengetahui perjalanan cita-citanya.
Sebelum acara berganti, Arfan bersantai seru bersama peserta Ospek. Mereka antusias bertanya pada Arfan.
“Kak Arfan, kenapa mau jadi magician?” salah satu cowok berkacamata yang masuk dalam peserta MOS bertanya.
Arfan tersenyum, pertanyaan yang bagus. “Karena dunia magician itu seperti melihat suatu keajaiban yang nggak bisa ditemui di dunia nyata. Segala hal yang nggak masuk logika bisa terjadi di dunia magician.”
Semuanya ber-oh berbarengan.
“Kak Arfan, emang nggak ada pilihan lain selain jadi magician?”
Arfan tertawa lebar, lagi-lagi pertanyaan bagus. “Hidup itu pilihan. Memilih menjadi orang biasa atau luar biasa. Dan saya memilih cita-cita yang banyak di tentang orang biasa. Kalian tahu? Cita-cita yang nggak banyak diminati sebenarnya nggak buruk. Yang gagal itu adalah mereka yang tidak pernah mencoba menarik diri keluar disaat terjebak ke dalam lubang yang dalam. Dan parahnya, dia mengiyakan teriakan orang-orang yang ikut terjebak di dalam lubang kalau mereka nggak mungkin keluar.” Arfan menghela nafasnya sejenak.
“Mereka nggak tahu, kalau peran yang mereka mainkan ada sutradara yang mengatur, yaitu Tuhan. Sutradara akan mengangkat mereka sebagai peran utama jika peranannya sangat bagus dan pintar bagaimana memainkan cerita. Begitu juga dengan hidup.”
 Mereka ber-oh lagi.
Untuk terakhir kalinya, seseorang dari sudut ruangan yang berkemeja cokelat, bukan peserta Ospek ataupun orang-orang yang mengejeknya, bertanya. “Kenapa mau bermimpi jadi seorang magician?”
Arfan menghela nafas sejenak, dia menatap seorang pemuda yang baru saja bertanya. “Karena mimpi itu bukan bunga tidur, mimpi itu perjuangan yang bisa buat gue gampang bangun di pagi hari.”
Kedua pemuda itu tersenyum, mereka yang menyaksikan juga ikut tersenyum, termasuk orang-orang yang pernah mengejek Arfan.
“Sukses buat kita, Vano. Orang yang punya cita-cita patut dihargai.”
Mulai saat ini, Arfan tidak ingin menjadi kucing yang punya sembilan nyawa. Dia ingin menjadi seorang magician meskipun hanya punya satu nyawa. Karena dengan begitu, dia akan lebih menghargai kehidupan agar tak ingin menjatuhkan diri dari atas gedung. Memiliki apa yang telah diperjuangkan, mempertahankan apa yang telah dimiliki.
Cita-cita yang menggantung, bukan selamanya tergantung tepat di depan mata. Namun, selalu kita kejar dan kita raih bagaimanapun caranya. Karena mimpi, bukan hanya suatu petunjuk, namun diperlihatkan dari suatu pertunjukan, pertunjukan seorang magician misalnya.

END


Ruang Itu, Kamu

Senin, 02 Juni 2014



Di sini, di tempat yang kusam, berdebu dan tak terurus. Aku menempatinya untuk sebuah sandaran hidup, memekikan kenangan yang ku punya dan mengadu dengan udara lembab yang tak kasat mata namun terasa radiusnya. Luka dan lupa yang menempati dalam satu tempat, membuat aku melupa perihal melepaskan untuk membahagiakan.

Sebuah cerita yang kau sebut membahagiakan kita, kini hadir diantara reruntuhan kenangan yang bersusah payah berdiri kuat. Mencoba menopang janji setia kita dan melawan semua agar tak terjadi perpisahan.

Ya,, cerita itu dimulai dari sini, tempat yang  terbengkalai, kedap udara yang memaksakan penciumanku menghirup debu. Menjerit histeris dalam ruang gelap tanpa sisi, karena dengan begitu, aku dapat merasakan harga dari perasaan yang kau jual dengan mulut – mulut pendusta itu.


Dari awal aku menyebutnya bodoh, mencintai tanpa tahu jika beresiko terluka. Kepergian yang entah datang dari mana ide gila itu tercetus, akhirnya meluapkan keegoisan yang menikam hati bertubi-tubi.

Dari awal aku memang tuli, diantara kata-kata indah yang kau nistakan, terdapat arti sebuah melepaskan. Mulut-mulut manis ternyata dapat mengartikan sadis,, hidup ini miris.

Ironis memang, dalam ruang gelap ini, bagaimana bisa menyatukan kebencian dengan cinta perihal kebersamaan. Orang-orang menyebutnya ini sesak, hampa, sakit. Namun, aku suka. Aku suka merasakan kesakitan, kehampaan bahkan kenistaan.  Bukan untuk membuat lemah dan terjatuh sangat lama, tapi untuk merasakan sisi gelap yang tak bisa mereka jamah.

Kau tau? Sisi gelap itu tidak buruk. Ketika tersesat dalam kegelapan, aku bisa berjalan mengenakan hati. Dan dari kegelapan itu, hati akan terbuka dan menuntun pikiran kearah yang benar. Sangat berbeda jika tersesat di ruang yang indah. Karena aku akan bersantai, terlena berbaring dan lupa caranya mengutuk mata yang terus berkicau layaknya iblis yang terus memberi kenikmatan sesaat.
 
Dan dari sisi gelap ini, ruangan gelap yang kusam, berdebu dan tak terurus. Aku memulai kehidupan lebih awal lagi untuk merasakan kehadiran orang baru, berjalan beriringan dengan orang baru, dan memulai hidup dengan orang baru. Karena dari semua yang hampa, setidaknya memberiku rindu untuk berada di ruang terang.

Karena yang terang merupakan tempat persinggahan terakhir bersama orang yang tepat.

Dan semoga itu, kamu. Orang baru yang memulai berkisah dengan cara baru untuk menarikku berjalan beriringan ke tempat yang lebih terang. Tidak dengan kesakitan, kehampaan bahkan kenistaan. Semua yang kau punya, murni menjadi satu peraduan dengan asa yang baik. Karena, sebaik-baiknya perjalanan, adalah dia yang akan menuntun untuk melangkah bersama, bukan menyuruh mengikuti langkahnya. 

Ialah kamu, pembaca mantra pengusir kegundahan. Segala penat yang menikam terkapar sudah. Ialah kamu, pada apa yang kau punya dan sanggup untuk bertahan sejauh perjalanan yang tak terasa titiknya. Ialah kamu, bukan dia, bukan orang masa lalu yang telah selesai berkisah.

Ruang itu, kamu.



Sisi hampa, pada segala harapan yang terang.
2 Juni 2014



Hidup masih baik-baik saja, tanpa Kamu- Koe-Ente-Lo!

Selasa, 22 April 2014


Seringkali orang yang disakiti akan merasa separuh hatinya menghilang,  nyaris tidak punya semangat hidup  dan akan menyalahkan diri sendiri atas rasa sakit hatinya. Atau bisa jadi akan membenci orang yang telah menghujam, menohok dan menjleb hatinya. Sedemi sumpah serapah, menghujani kata-kata yang nggak banget dilakuin tapi masih dilakuin sama orang yang sakit hati. Yah, apalah kata-kata yang di share dalam jejaring sosial demi kepuasan. Semoga tuh orang yang nyakitin baca dan bisa ngerti kalau elo sakit hati, gitu? Nggak banget, sekarepmu, lah koe yang publish, bodo kalau dia ternyata ketawa-ketawa ngeliat ente yang galaunya sampai sekampung. Ehm, bisa juga, galau kampungan.

Nggak ada dia, hari masih sama: senin sampai minggu.

Nggak ada dia, waktu masih sama:  24 jam.

Nggak ada dia, ente masih bisa ngelakuin hal yang biasa dilakuin, Kayak makan, tidur, nonton tv, baca buku, ngundang teman-teman party, ngunjungin keluarga jauh, ngubek-ngubek empang, ngusir maling ikan, ngubah dandanan, ngunci kamar kalau mau bobo, ngupil, ngutil, dan ehm,, nguatin diri untuk move on #eh.

Bedanya? Kebiasaan. Udah biasa sama dia, laporan tiap detik. “Sayang, aku mau jalan sama teman-teman”/ “Sayang, aku lagi duduk nih” / “Sayang, aku lagi ngelangkah pake kaki kanan, sekarang kaki kiri”

“Sayang, aku lagi napas…”

Namanya juga berpisah, pasti akan merasakan kehilangan. Entah kehilangan aktifitas tanpa dia, tanpa berkicaunya dia, tanpa ada dia yang bakal siap ngasih sandaran bahu kalau lo nangis. Semua bakal merasa hidup sendiri, mandiri, pemikiran yang semula mengarungi hidup berdua dengan dia, memilih terjun ke dasar laut dan berenang sejauh mungkin untuk menghindari kapal pengangkut cinta. Pret!

Nggak ada dia, hidup nggak bakal berakhir. Toh, masih bisa ngelakuin hal yang biasa kita lakuin. Nggak ada dia, hidup seharusnya gak hampa, karena hidup sebuah perputaran roda untuk merasakan sedih, bahagia, perih, tertatih, tersungkur, kehilangan, bahagia lagi. Seharusnya lebih jeli untuk memprioritaskan seseorang yang setia mengabdi dalam kehidupan kita, keluarga dan teman.  

Sumpah, janji atau komitmen yang bukan dalam ikatan suci, bakalan punah dan hancur lebur jadi partikel-partikel halus, berserakan tak menentu arah. Bukankah Tuhan tidak suka manusia yang melebih-lebihkan? Kalau cinta, yasudah, nggak usah gombal pisan, nggak usah ngasih barang-barang tanda cinta, kumaha atuh. Udah dikasih sama Tuhan, bersyukur aja, menjaga dari yang Tuhan tidak suka. Kalau Tuhan seneng, pasti dapet bonus.

Kehilangan cuma masalah waktu. Bukan untuk merusak hati, bukan juga untuk merasakan galau, tapi bagaimana membuat hidup lebih kuat dari biasanya, belajar menghargai ketika pernah memiliki dan juga mengerti bagaimana cara memaafkan yang memang harus dimaafkan. Iya, jangan ada rasa benci, jangan ada rasa kesal dan jangan ada kata menyesal untuk seseorang yang pernah berdiam di hati koe, karena seperih apapun hati ente,, dia pernah membuat dunia lebih bahagia dari biasanya dan lebih baik dari pemikiran biasa. 

Siapapun dia, sang pemberi kesedihan setidaknya saat ini. Dia tidak berhak untuk disingkirkan, justru berterima kasihlah karenanya ente di tempatkan dalam lingkaran pembelajaran bagaimana cara memaafkan dan mengikhlaskan. Karena sebaik-baiknya pembelajaran hidup, datang dari orang lama yang telah selesai berkisah, untuk kita petik positifnya dan menjadi bekal biar gak terjatuh di lubang masalah yang sama untuk masa depan.


Jadi, hidup masih baik-baik aja tanpa ada dia. Asal ente bisa berdamai sama hati sendiri, caranya menjadi pribadi yang lebih baik dan berprestasi. Rasa sakit nggak bakal bisa hilang kalau belum bisa memaafkan dia. Asal koe-ente ngerti, rasa sedih, dongkol atau patah hati nggak bisa merubah kondisi. Malah makin memperparah kehidupan. Nggak doyan makan, nggak semangat aktifitas—Rugi!

Kita masih punya sisi yang terkunci, masih punya pintu yang belum kita tembus, masih banyak jalan yang belum kita tempuh. Baru buka satu sisi dan melewati pintu pada akhirnya putus asa pada satu jalan udah nyerah? Koe ini nggak punya Tuhan?

Jangan maksain kehendak yang sebenarnya bukan itu tujuan hidup kita, jangan terlalu menulis kisah hidup yang nggak banget ditulis pake mohon-mohon. Akan ada yang berdiam dan tinggal di hati pada waktu yang tepat, ketika koe-ente udah banyak belajar dan mengerti strategi hidup. Karena orang yang akan singgah di hati ente, juga masih berkelana ke rumah baru untuk belajar bagaimana menciptakan suatu kebahagiaan dan komitmen sesungguhnya sebelum pulang ke rumah ente. Setdah, emang gitu yak!

Buat semua jadi pembelajaran hidup dan jangan disesali. Kenangan nggak bakal bisa dihapus pake penghapus Ujian Nasional sekalipun, soalnya kenangan adalah satu-satunya jembatan pengingat, bahwa ente pernah belajar melukis kehidupan yang harus di koreksi supaya bab akhir kehidupan nggak salah ngelukis lagi.

Sementara untuk menunggu menulis sampai bab akhir kehidupan sama dia, koe-ente belajar jadi pribadi yang lebih baik dulu lah .. Jangan nangis kayak bocah yang di PHP-in sama kang balon. Ngomongnya ngasih balon, nggak taunya disuruh minta uang dulu. Aih, apalah ini ada-ada saja.

Mau dapetin yang lebih baik, ya harus jadi yang terbaik.

Pria mana yang tidak suka wanita tangguh, mandiri, mengencani Tuhan setiap waktu, dan sukses?!

~Untuk ente-koe yang curhat ama ane tiap hari ataupun yang nggak~

Pret!


Keheningan Kata

Rabu, 02 April 2014

Di ruang keheningan, kata-kata terus berteriak dalam pikiran kita untuk mengakhiri semua gelisah. Tapi ego kita terus bermain dalam satu ruang, memainkan pikiran agar tak sepakat dengan hati. Hanya diam yang bercerita, hanya sepasang mata kita yang bermain melingkari pusaran tanda tanya.
Selalu seperti ini, tak penat untuk menyudahi kebisingan hati. Seharusnya kita memulai lebih dulu untuk berteriak jangan menyerah, karena ku tahu, perkara cinta akan melemah pada kesetiaan.  Hanya saja kita bukan penyihir yang merapal mantra, agar musuh akan terkalahkan. Kita hanya manusia yang saling mencinta dan butuh waktu untuk merapal kata pisah, agar ego terkalahkan.

Kamu—seseorang yang berdiam di ruang hati sangat lama, tapi pada akhirnya ingin menghembuskan nafas kebebasan dan menjual hatiku pada orang lain dengan alasan belum menjadi dewasa.

Perlu aku ingatkan padamu tentang perihal dewasa. Menjadi dewasa adalah pemikiran rumit, mereka bijak untuk meninggalkan seseorang yang menyakiti mereka. Buat apa terjebak masa lalu jika pada akhirnya menyakitkan dan mematikannya.

Tapi lain denganku, aku tidak ingin menjadi dewasa, aku ingin menjadi anak kecil saja. Dengan begini, jika kamu menyakiti diriku, aku akan bertahan dan tak menyerah mempertahankanmu. Apalagi kamu juga masa laluku, tetapi aku memilih terjebak bersamamu agar kamu terus ada di masa depan aku.

 Aku tak mempermasalahkan berapa kali menangis dan memohon agar dipersatukan kembali denganmu. Berpuluh kali pulang dalam penantian, tetap saja, menunggumu berarti melenyapkanku. Taka apa, asal kebersamaan kita kembali utuh seperti masa lalu.  

Jika memang perpisahan adalah jalan terbaik untuk kehidupan kita, seharusnya tidak ada luka dan air mata untuk sebuah perubahan. Membiarkan menyesali untuk keputusan yang kita anggap benar dan membodohi pikiran yang kita anggap baik.

Seharusnya tidak ada alasan untuk membiarkan kita berkelana sendiri-sendiri dan menempati ruang yang baru. Aku terlalu takut akan hal itu. Aku takut kamu terlena dalam ruang baru yang mungkin menipu, sehingga lupa kapan kembali pulang di waktu yang tepat.

Karena kita bukan Adam dan Hawa, yang terpisah jauh lalu berkelana menemui satu titik untuk kembali bersama. Kita hanya manusia biasa, butuh uluran tangan untuk sama-sama melewati hidup, butuh penopang jika diantara kita ada yang terjatuh, dan juga butuh penyemangat disaat salah satu dari kita tengah putus asa.

Tapi, jika kamu benar-benar ingin berpisah…

Aku ingin berucap untuk terakhir kalinya:

“Dan jika menyakitimu adalah sebuah dosa, akan aku buat kebahagiaan sebagai bentuk pertobatan.”

Ini bukan puisi, karena aku bukan penyair. Ini tentang membaca kisah, yang harus diselesaikan dengan  tulisan. Karena kita tidak bisa melawan ketidakbisaan berbicara saling pandang.

Lewat tulisan ini, semoga kamu mengerti.


Perkara Kita

Selasa, 25 Maret 2014

Sudah ku katakan padamu, tentang perkara cinta yang dapat membunuh janji dan harapan. Berpuluh kali pulang dalam penantian, tetap saja Rindu telah aku bakukan. Bahkan jika kau mau, penjara kesepian terasa menyayat.

Luka yang tak terasa radiusnya, melebur dalam keheningan. Sebagaimana tentang penyatuan do’a yang sering kita rapalkan bersama. Bacalah aku dalam sudut mata, meremuk kata-kata bukan dalam perjanjian. Karena cinta, penghapus air mata kesedihan, bukan  memotong kebahagiaan.

Sekali lagi, ku ingatkan tentang sang pengembara yang ingin bertemu langit di sudut bumi. Padahal, dunia bukan sepotong roti yang dapat dilipat dan ditemukan ujungnya. Tetapi dia menemukan hal lain setelah memperjuangkannya tanpa jeda, karena penyatuan cinta tak bisa disalahkan.

Dan,, aku tetap memilih diam. Saat jiwa meretas namamu untuk terpisah. Bukan karena menyerah, tetapi ada waktu yang menyuruh kita beristirahat, lalu sama-sama mencari jalan lain hingga bertemu dalam titik penyatuan. Semua luka bahkan air mata sudah kuhapus dari daftar keegoisan. Jadi,  jangan merasa bersalah.

Bila waktunya tiba, akan ku rubah air mata menjadi sebuah bingkai senja, yang hanya bisa dinikmati dan dirasakan oleh kita. Bila waktu tiba, akan kubuat kesepakatan untuk menjamu kebahagiaan, tanpa ada pilu, tanpa ada yang tertampar, bahkan tertatih. Semua akan kubuat jatuh cinta untuk memuja kebahagiaan tanpa usai. Karena mungkin saja, Kepedihan akan mengalah pada orang yang selalu berjuang melawannya.

Tapi, jika waktu tak kunjung datang. Perjuangan tidak sampai disini, kita harus berjuang melawan waktu, meski sendiri bukan berarti tak bahagia. Masih banyak petunjuk arah untuk kita resapi, bukan pada kebencian. Karena kita masih sama-sama berjalan menjauh dari masa lalu.

Kau tetap anugerah terindah—yang pernah menempati ruang hatiku. Boleh aku membisikan namamu sekali lagi? Meski tak bersama lagi, aku harap kita tak melupa tentang kisah yang selalu diperdengarkan semesta.



Yogyakarta,
23 Maret 2014.
Di gerbong penantian, kelas 3 216.


battlepujangga

Cute Running Puppy
RISTY PUTRI INDRIANI

Category list

Ads

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Blogger news

Clapping Hands

Twitter

Blogger templates

Clapping Hands
Clapping Hands